Minggu, 06 September 2009

RINJANI

Kekaguman membawaku menghampirimu
Menelusuri jalan setapak yang penuh tanda
Menghirupi sajian aroma tanahmu
Menjamah alur yang menggores indah tubuhmu
Kadang kuharus terdiam sesaat
Menikmati dalam-dalam setiap lekuk tubuhmu
Atau sekedar menghela nafas yang terengah
Berputar pada poros ketakjubanku
Ku harus tetap tersadar Meski letih tercekam peluh derita
Dan dingin memburu
Kau menunggu


Pagi buta mataku terjaga
Meski tubuh enggan tuk tegap, langkah kaki harus berderap
Mencerapi makna yang terendap yang bersembunyi di balik kepekatan gelap
Nafasku memberat keringatpun telah lekat
Angin mendesir bercampur debu
Penat dan letih memaksaku sesaat
Merenungi kedirianku disini
Mencari jawaban atas segala gelora tanya


Fajar telah menyambut pagi
Ku harus teruskan langkah kaki
Hingga ku luluh di pelukanmu
Di ujung bumi yang tinggi ku dekap tubuhmu erat
Ku teriakkan namamu pada awan yang membisu biru
Dan tertunduk dalam senandung syukur


Bermalam di rumahmu, di tepi danau segara anak
Sempatkan diriku meneguk air pemberianmu
Menikmati jamuanmu

Bercerita dan terwata menumpahkan segala rasa
Bercerita tentang langkah yang kukira tak ada akhir

Menertawakan keterputusasaan yang sempat singgah
Malam melarut, larutlah bersama kedamaianmu
Mata yang mulai terpejam berselimut hangat rumahmu
Anak gadismu menjagaku

Pagi terlalu cepat menjemput kusesali
Perpisahan ini sungguh menyebalkan
Tapi kuharus beranjak segera Kujanjikan ini hanya sementara
Kunikmati betul setiap tetes teguk airmu
Kunikmati betul setiap keeping jejak langkahku Suatu saat…..
Pulang ke rumahmu adalah impian setiap tidurku..
Adalah janjiku….